VIVAnews - Kabar tak sedap hinggap di Persib Bandung jelang laga penting kontra Persema Malang, Rabu 17 Maret 2010. Dua kubu paling berpengaruh di PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muhtar (Dirut PT PBB & Manajer Tim Persib) dan Konsorsium sebagai penyandang dana terbesar tengah berselisih paham.
Umuh mengaku berang, karena salah satu anggota Konsorsium berencana mengganti logo tim Persib. Menurutnya, meskipun logo tersebut merupakan hak milik Pemkot Bandung, namun punya nilai historis tinggi. Sudah menjadi bagian sejarah Persib. Masyarakat Kota Bandung pun sudah sangat mengenal logo itu.
"Tentu saja saya sangat tidak setuju adanya perubahan logo terebut. Ketika saya datang ke kantor PT PBB, salah satu anggota Konsorsium langsung menyuruh saya memilih satu dari 7 logo alternatif. Tentu saja saya menolak,
karena tidak ingin melupakan nilai historis Persib," tangkis Umuh kepada wartawan di Stadion Persib, Jalan Ahmad Yani, Bandung.
Selain persoalan logo, Umuh pun menilai Konsorsium telah melakukan intervensi hingga persoalan teknis tim. Ia sangat kecewa, ketika ada salah satu anggota Konsorsium turut campur dalam penentuan skema tim inti Maung Bandung.
Pasalnya, dalam beberapa kesempatan Konsorsium menggelar rapat dengan jajaran pelatih dan tim Pangeran Biru tanpa ada persetujuan pihak manajemen.
"Itu sudah di luar tanggung jawab mereka. Tentu saja saya sangat tidak setuju, ketika ada anggota konsorsium yang turut campur menentukan pemain mana yang harus diturunkan ketika Maung Bandung bertanding dalam laga wajibnya," jelas Umuh.
Ia membenarkan, Konsorsium merupakan penyandang dana terbesar operasional Maung Bandung untuk berkiprah di musim ini. Tapi, itu bukan berarti Persib telah dijual kepada mereka. Karena sejak awal sudah ditegaskan Maung Bandung tetap milik rakyat Bandung dan Jawa Barat.
Wakil Dirut PT PBB merangkap anggota Konsorsium, Mohamad Farhan, menjelaskan perubahan logo tim Persib diperlukan untuk kepentingan bisnis. Jika ingin memasarkan marchandise Persib harus tercantum logo yang telah disahkan pihak berwenang.
"Ketika kami ingin mengurus hak paten logo Persib yang sekarang, tentu saja ditolak Direktorat Jenderal Hak Cipta. Karena logo itu telah menjadi hak Pemkot Bandung. Memang perubahan logo ini masih menjadi perdebatan panas di jajaran internal PT PBB," ungkap Farhan, ketika dihubungi secara terpisah.
Farhan menilai, reaksi Umuh hanyalah sebatas kesalahpahaman saja. Ketika ada penjelasan lebih lanjut, kedua pihak pasti akan saling mengerti dan memahami persoalan yang terjadi.
"Intinya, PT PBB menggabungkan semua warna dan pikiran dalam sebuah bisnis plan yang tujuannya untuk memajukan Persib,"tandas Farhan.
Soal kabar intervensi, Farhan membantah pihaknya telah ikut campur dalam persoalan teknis. Menurutnya, semua urusan terkait kinerja pemain di lapangan merupakan tanggung jawab serta kewenangan Pelatih Jaya Hartono.
"Percuma kami sudah bayar pelatih mahal-mahal, kalau tetap melakukan intervensi. Itu semua tidak benar," ujar Farhan.


